FILSAFAT PENDIDIKAN IPS
FILSAFAT PENDIDIKAN IPS
Filsafat
berasala dari kata philo, dan shopia, philos artinya berpikir dan
shopia artinya kebijaksanaan. Jadi, Filsafat ialah cinta kepada
kebijaksanaan. Berpikir artinya mengolah data inderawi menjadi pengertian, atau
proses mencari makna, dan kebijaksanaan artinya pengambilan keputusan yang
memihak pihak yang lemah. Dengan demikian filsafat dapat diartikan berpikir
mendalam tentang data inderawi dan pengambilan keputusan yang memihak kepada
pihak yang lemah.
Pendidikan
membutuhkan filsafat karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut
pelaksanaan pendidikan yang dibatasi pengalaman, tetapi masalah-masalah yang
lebih luas, dan lebih kompleks. Seorang guru, baik sebagian pribadi maupun
sebagian pelaksanaan pendidikan, perlu mengetahui filsafat pendidikan.
Tujuan pendidikan perlu dipahami hubungannya dengan tujuan hidup. Filsafat
pendidikan harus mampu memberikan pedoman kepada para pendidik (guru).
Filsafat
disebut juga ilmu pengetahuan yang mencari hakekat dari berbagai fenomena
kehidupan manusia. Filsafat pendidikan adalah ilmu yang menyelidiki hakekat
pelaksanaan pendidikn yang bersangkut paut dengan tujuan, latar belakang, cara
dan hasilnya, serta hakekat ilmu pendidikan, yang berhubungan dengan analisis
kritis terhadap struktur dan kegunaan pendidikan.
Sejarah
filsafat yunani mencatat, bahwa filsafat mencakup seluruh bidang ilmu
pengetahuan. Lambat laun banyak ilmu-ilmu khusus yang berkembang dan melepaskan
diri dari filsafat. Meskipun demikian, filsafatdan ilmu pengetahuan masih
memiliki hubungan dekat. Sebab baik filsafat maupun ilmu pengetahuan sama-sama
pengetahuan yang metodis, sistematis, koheren dan mempunyai obyek material dan
formal. Namun yang membedakan di antar keduanya adalah: filsafat
mempelajari seluruh realitas, sedangkan ilmu pngetahuan hanya mempelajari satu
realitas atau bidang tertentu. Semua pengetahuan pada mulanya merupakan satu
kesatuan dan belum terbagi-bagi atau terspesialisasi seperti sekarang. Yang
dikenal pada masa itu hanyalah filsafat, yaitu filsafat alam dan filsafat
sosial.
Filsafat
pendidikan adalah ilmu yang menyelidiki hakekat pelaksanaan pendidikan yang
bersangkut paut dengan tujuan, latar belakang, cara dan hasilnya, serta hakekat
ilmu pendidikan, yang berhubungan dengan analisis kritis terhadap struktur dan
kegunaan pendidikan itu sendiri.
Filsafat
ilmu pendidikan dibedakan dalam 4 macam, yaitu:
1. Ontologi
yaitu ilmu pendidika yang membahas tentang hakekat substansi dan pola
organisasi ilmu pendidikan.
2. Epistemologi
yaitu ilmupendidikan yang membahas tentang hakekat objek formal dan material
ilmu pendidikan.
3. Metodologi
yaitu ilmu pendidikan yang membahas tentang hakekat cara-cara kerja dalam
menyusun ilmu pendidikan.
4. Aksipologi
yaitu ilmu pendidikan yang membahas tentang hakekat nilai kegunaan teoritis dan
praktis ilmu pendidikan.
Filsafat
pendidikan ilmu pengetahuan sosial (IPS) pada dasarnya tidak berbeda dengan
filsafat-filsafat ilmu pendidikan lainnya, karena filsafat pendidikan IPS juga
merupakan filsafat praktik pendidikan, yaitu praktik tentang pendidikan
ilmu-ilmu sosial agar para peserta didik mampu memahami masalah-masalah sosial
dan dapat mengatasinya serta mengambil keputusan yang tepat terhadap masalah
yang dihadapi dalam kehidupannya. Suatu ilmu pengetahuan dapat disertakan
sebagai ilmu jika memenuhi cara-cara sebagai ilmu atau pengetahuan.
Pengertian PIPS
Istilah
Pendidikan IPS atau PIPS merupakan istilah yang sejajar dengan istilah
Pendidikan IPA. Menurut Prof. Nu’man Somantri, istilah ini adalah penegasan dan
akibat dari istlah IPS-IPA saja agar bisa dibedakan dengan pendidikan pada
tingkat universitas. Dalam lingkup filsafat ilmu, disiplin ilmu-ilmu sosial,
dan ilmu pendidikan, istilah Pendidikan IPS belum dikenal baik sebagai sub
disiplin ilmu atau cabang dari disiplin ilmu. Dalam kepustakaan asing, istilah
yang lazin digunakan antara lain social studies, social education, social
studies education, social science education, Citizenship Education, Studies of
society and environment.perbedaan istilah ini bukan hanya digunakan berbeda
antar negara melainkan terjadi perbedaan antar negara bagian dalam satu negara.
Tujuan dari
PIPS adalah mendidik siswa sebagai warga negara yang baik (good citizhenship),
warga masyarakat yang kontruktif dan produktif, yaitu warga negara yang
memahami dirinya sendiri dan masyarakatnya, mampu merasa sebagai warganegara,
berpikir sebagai warga negara, bertindak sebagai warga negara, dan jika mungkin
juga mampu hidup sebagaimana layaknya warga negara (saxe, 1991:182, appendix).
NCSS menjelaskan
istilah social studies (Pendidikan IPS) sebagai berikut.
The term social studies is used to include
history, economics, antropology, sociology, civics, geography and all modifications
of subjects whose content as well as aim is social. In all content deinitions,
the social studies is conceived as the subject matter of the academic
disciplines somehow simplifiied, adapted, modified, or selected for school
instruction.
Muhammad Numan
Somantri
(1988:8) mengemukakan:
Pendidikan IPS
adalah suatu penyederhanaan disiplin ilmu-ilmu sosial, ideologi negara dan
disiplin ilmu lainnya serta masalah-masalah sosial yang terkait, yang
diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan
pendidikan pada tingkat pendidikan dasar dan menengah.
Perbandingan
Pendidikan IPS untuk Tingkat Pendidikan Dasar dan Menengah dengan Pendidikan
Tinggi (FPIPS)
|
Pendidikan
IPS untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah |
Pendidikan
IPS untuk FPIPS dan jurusan IPS-FKIP |
|
Pendidikan
IPS merupakan penyederhanaan adaptasi, seleksi dan modifikasi dari disiplin
akdemis ilmu-ilmu sosial yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan
pedagogis-psikologis untuk tujuan institusional pendidikan dasar dan menengah
dalam kerangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang berdasarkan
pancasila. |
Pendidikan
IPS adalah seleksi dari struktur disiplin akademik ilmu-ilmu sosial yang
diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah (dan psikologis) untuk mewujudkan
tujuan pendidikan FPIPS dalam kerangka pencapaian tujuan pendidikan nasional
yang berdasarkan pancasila. |
HAKIKAT PEMBELAJARAN IPS
IPS merupakan suatu program
pendidikan dan bukan sub-disiplin ilmu tersendiri, sehingga tidak akan
ditemukan baik dalam nomenklatur filsafat ilmu, disiplin ilmu-ilmu sosial
(social science), maupun ilmu pendidikan (Sumantri. 2001:89). Social Scence
Education Council (SSEC) dan National Council for Social Studies (NCSS),
menyebut IPS sebagai “Social Science Education” dan “Social Studies”. Dengan
kata lain, IPS mengikuti cara pandang yang bersifat terpadu dari sejumlah mata
pelajaran seperti: geografi, ekonomi, ilmu politik, ilmu hukum, sejarah,
antropologi, psikologi, sosiologi, dan sebagainya
Dalam bidang pengetahuan sosial, ada
banyak istilah. Istilah tersebut meliputi : Ilmu Sosial (Social Sciences),
Studi Sosial (Social Studies) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).
1.
Ilmu
Sosial (Sicial Science)
Achmad
Sanusi memberikan batasan tentang Ilmu Sosial (Saidihardjo,1996.h.2) adalah
sebagai berikut: “Ilmu Sosial terdiri disiplin-disiplin ilmu pengetahuan sosial
yang bertarap akademis dan biasanya dipelajari pada tingkat perguruan tinggi,
makin lanjut makin ilmiah”.
Menurut
Gross (Kosasih Djahiri,1981.h.1), Ilmu Sosial merupakan disiplin intelektual
yang mempelajari manusia sebagai makluk sosial secara ilmiah, memusatkan pada
manusia sebagai anggota masyarakat dan pada kelompok atau masyarakat yang ia
bentuk.
Nursid
Sumaatmadja, menyatakan bahwa Ilmu Sosial adalah cabang ilmu pengetahuan yang
mempelajari tingkah laku manusia baik secara perorangan maupun tingkah laku
kelompok. Oleh karena itu Ilmu Sosial adalah ilmu yang
mempelajari tingkah laku manusia dan mempelajari manusia sebagai anggota
masyarakat.
2.
Studi
Sosial (Social Studies).
Perbeda
dengan Ilmu Sosial, Studi Sosial bukan merupakan suatu bidang keilmuan atau
disiplin akademis, melainkan lebih merupakan suatu bidang pengkajian tentang
gejala dan masalah social. Tentang Studi Sosial ini, Achmad Sanusi (1971:18)
memberi penjelasan sebagai berikut : Sudi Sosial tidak selalu bertaraf
akademis-universitas, bahkan merupakan bahan-bahan pelajaran bagi siswa sejak
pendidikan dasar.
3.
Pengetahuan
Sosial (IPS)
Harus diakui bahwa ide IPS berasal
dari literatur pendidikan Amerika Serikat. Nama asli IPS di Amerika Serikat
adalah “Social Studies”. Istilah tersebut pertama kali dipergunakan sebagai
nama sebuah komite yaitu “Committee of Social Studies” yang didirikan pada
tahun 1913. Tujuan dari pendirian lembaga itu adalah sebagai wadah himpunan
tenaga ahli yang berminat pada kurikulum Ilmu-ilmu Sosial di tingkat sekolah
dan ahli-ahli Ilmu-ilmu Sosial yang mempunyai minat sama. Hakikat IPS, adalah
telaah tentang manusia dan dunianya. Manusia sebagai makhluk sosial selalu hidup
bersama dengan sesamanya. Dengan kemajuan teknologi pula sekarang ini orang
dapat berkomunikasi dengan cepat di manapun mereka berada melalui handphone dan
internet. Kemajuan Iptek menyebabkan cepatnya komunikasi antara orang yang satu
dengan lainnya, antara negara satu dengan negara lainnya. Dengan demikian maka
arus informasi akan semakin cepat pula mengalirnya. Oleh karena itu diyakini
bahwa “orang yang menguasai informasi itulah yang akan menguasai dunia”.
Suatu tempat atau ruang dipermukaan
bumi, secara alamiah dicirikan oleh kondisi alamnya yang meliputi iklim dan
cuaca, sumber daya air, ketinggian dari permukaan laut, dan sifat-sifat alamiah
lainnya. Jadi bentuk muka bumi seperti daerah pantai, dataran rendah, dataran
tinggi, dan daerah pegunungan akan mempengaruhi terhadap pola kehidupan
penduduk yang menempatinya. Lebih jelasnya Anda dapat mencermati contoh berikut
ini.
1.
Corak
kehidupan masyarakat di tepi pantai utara Jawa yang bentuknya landai dengan
laut yang tenang dan tidak begitu tinggi serta arus angin yang tidak begitu
kencang, sangat menguntungkan bagi masyarakat untuk mencari ikan. Hal ini
disebabkan ikan banyak berkumpul di kawasan laut yang dangkal yang masih
tertembus sinar matahari. Oleh karena itu mayoritas masyarakatnya bermata pencaharian
sebagai nelayan. Hampir semua pelabuhan-pelabuhan besar di pulau Jawa sebagian
besar terletak di pantai utara Jawa.
2.
Dataran
rendah yang meliputi daerah pantai sampai ketinggian 700 meter di atas
permukaan laut merupakan kawasan yang cadangan airnya cukup, didukung oleh
iklimnya yang cocok, merupakan potensi alam yang cocokuntuk dikembangkan
sebagai areal pertanian, misalnya Karawang, Bekasi, Indramayu, Subang dan
sebagainya. Dataran tinggi yang beriklim sejuk, dengan cadangan air yang sudah
semakin berkurang maka sistem pertanian yang dikembangkan adalah pertanian
lahan kering dan holtikultura seperti sayuran, buah-buahan, da tanaman hias.
3.
Lain
dengan daerah pegunungan yang memiliki corak tersendiri. Karena sedikitnya
persediaan air tanah, mengakibatkan pemukiman penduduk terpusat di
lembah-lembah atau mendekati alur sungai. Hal ini dikarenakan mereka berusaha
untuk mendapatkan sumber air yang relatif mudah. Ladang yang mereka usahakan
biasanya terletak di lembah pegunungan.
Aspek pengaturan dan kebijakan ini termasuk aspek politik
Marilah kita cermati kembali apa
yang sudah kita pelajari di atas. Setelah kita pelajari ternyata kehidupan itu
banyak aspeknya, meliputi aspek-aspek:
1.
hubungan
sosial: semua hal yang berhubungan dengan interaksi manusia tentang proses,
faktor-faktor, perkembangan, dan permasalahannya dipelajari dalam ilmu
sosiologi
2.
ekonomi:
berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan manusia, perkembangan, dan
permasalahannya dipelajari dalam ilmu ekonomi
3.
psikologi:
dibahas dalam ilmu psikologi
4.
budaya:
dipelajari dalam ilmu antropologi
5.
sejarah:
berhubungan dengan waktu dan perkembangan kehidupan manusia dipelajari dalam
ilmu sejarah
6.
geografi:
hubungan ruang dan tempat yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia
dipelajari dalam ilmu geografi
7.
politik:
berhubungan dengan norma, nilai, dan kepemimpinan untuk mencapai kesejahteraan
masyarakat dipelajari dalam ilmu politik.
IPS (Ilmu
Pengetauan Sosial) bukan merupakan suatu bidang keilmuan atau disiplin bidang
akademik, melainkan lebih merupakan suatu bidang pengkajian tentang gejala dan
masalah social. Dalam kerangka kerja pengkajiannya IPS (Ilmu Pengetahuan
Sosial) menggunakan bidang-bidang keilmuan yang termasuk bidang ilmu social.
IPS (Ilmu
Pengetauan Sosial) segai satu program pendidikan tidak hanya menyajikan tentang
konsep-konsep pengetahuan semata, namun harus pula mampu membina peserta didik
menjadi warga masyarakat yang tahu akan hak dan kewajiban, yang juga memiliki
tanggung jawab atas kesejahteraan bersama yang seluas-luasnya. Oleh karena
peserta didik yang dibina melalui IPS tidak hanya memiliki pengetahuan dan
kemampuan berpikir tinggi,namun peserta didik diharapkan pula memiliki
kesabaran dan tanggung jawab yang tinggi terhadap diri dan lingkungannya.
TUJUAN PEMBELAJARAN IPS
Sebagai bidang pengetahuan dan sejarah
IPS yang memiliki delapan tujuan sebagai berikut:
1.
IPS mempersiapkan siswa untuk studi
lanjut dibidang sosial science, mata pelajaran seperti sejarah, geografi,
ekonomi, dan antropologi budaya haruslah diberikan lepas-lepas sebagai vak
tersendiri. Mata pelajaran IPS yang terpecah-pecah tadi tak memerlukan usaha
peramuan bagian-bagian dari mata pelajaran lain
2.
IPS hakikatnya merupakan suatu kompromi
antara 1 dan 2 tersebut di atas.Sebagai suatu penyederhanaan dan penyaringan
terhadap ilmu-ilmu sosial, dengan kemampuan dan daya tangkap.
3.
IPS yang mempelajari closed areas atau
masalah-masalah sosial yamg pantas untuk dibicarakan dimuka umum. Bahannya
menyangkut macam-macam misalnya ekonomi, pengetahuan sampai politik dadi sosial
sampai kultural. Biar
berlatih berpikir demokrat.
4.
IPS
yang bertujuan mendidik kewarganegaraan yang baik. Dalam konteks
budaya melalui pengolahan secara ilmiah dan psikologis yang tepat.
5.
Menurut pedoman khusus Bidang Studi
IPS, tujuan bidang studi tersebut, yaitu dengan materi dipilih. Kegiatan
belajar dan pembelajaran IPS mengarah kepada 2 hal.
a.
Nilai-nilai dan sikap hidup yang
dikandung oleh pancasila atau UUD 1945 secara dasar dan intersif ditanamkan
kepada siswa sehingga terpupuk kemauan dan tekad untuk hidup bertanggung jawab
demi keselamatan diri, bangsa, negara, dan tanah air.
b.
Mengajarkan
konsep-konsep dasar sosiologi, geografi, ekonomi, sejarah, dan kewarganegaraan,
pedagogis, dan psikologis.
6.
Mengembangkan
kemampuan berpikir kritis dan kreatif, inkuiri, memecahkan masalah, dan
keterampilan sosial membangun komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai
sosial dan kemanusiaan
7.
Meningkatkan
kemampuan bekerja sama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, baik
secara nasional maupun global.
Sejalan dengan
tujuan tersebut tujuan pendidikan IPS menurut (Nursid Sumaatmadja. 2006) adalah
“membina anak didik menjadi warga negara yang baik, yang memiliki pengetahuan,
keterampilan, dan kepedulian social yang berguna bagi dirinya serta bagi
masyarakat dan negara” Sedangkan secara rinci Oemar Hamalik merumuskan tujuan
pendidikan IPS berorientasi pada tingkah laku para siswa, yaitu : (1)
pengetahuan dan pemahaman, (2) sikap hidup belajar, (3) nilai-nilai sosial dan
sikap, (4) keterampilan (Oemar hamalik. 1992 : 40-41).
Sumber dan Materi Ilmu
Pengetahuan Sosial
Telah
dikatakan di atas bahwa ruang lingkup yang dipelajari IPS adalah manusia
sebagai anggota masyarakat. Oleh karena itu, segala gejala, masalah, dan
perstiwa tentang kehidupan manusia di masyarakat, dapat dijadikan sumber dan
materi IPS, kejadian – kejadian tadi baik yang langsung kita jumpai di
masyarakat maupun yang diberitakan di radio, suarat kabar, TV, dan yang ditulis
pada buku-buku pelajaran, dapat dijadikan bahan untuk dipelajari pada IPS.
Dengan demikian, sumber dan materi IPS ini dapat dikatakan tidak terbatas.
1.
Ilmu Sosial sebagai Sumber IPS
Seperti
pernah dikemukakan terdahulu, bahwa mata pelajaran atau bidang keilmuan yang
dapat dilibatkan ke dalam pengajaran IPS berbeda antara yang dilaksanakan di
tingkat sekolah dasar dengan yang dilaksanakan disekolah lanjutan, dan dengan
apa yang dilaksanakan diperguruan tinggi.
Mata
pelajaran yang dapat dijadikan sumber pada pengajaran IPS yaitu geografi,
sejarah, ekonomi, antropologi, politik, dan sosial. Guru pengajar IPS harus
dapat memanfaatkan materi-materi pada mata pelajaran tadi. Guru harus menaruh
perhatian yang penuh kepada apa yang diuraikan dan yang disajikan pada mata
pelajaran yang termasuk ilmu sosial, jika guru telah menaruh minat yang besar
terhadap materi yang diajarkan, maka anak-didik asuhannya pun akan menruh minat
yang besar. Oleh karena itu, buku-buku ilmu sosial harus diminati dan disajikan
sumber pada pengajaran IPS oleh guru dan murid.
Metode
dan pendekatan geografi sangat membantu untuk lebih mengerti gejala dan masalah
yang sedang dipelajari. Sejarah dengan proses sejarah yang mengungkapkan
peristiwa-peristiwa kehidupan berdasarkan kurun waktunya, merupakan sumber dan
materi IPS yang sangat berharga. Melalui materi sejarah, anak-didik akan dapat
menghargai jasa tokoh-tokoh yang telah berjuang untuk membela kebenaran dan hak
azasi manusia. Ilmu ekonomi dan mata pelajaran ekonomi, mendidik para siswa
dapat memanfaatkan sumber daya dan tenaga yang terbatas, untuk dapat memenuhi
kebutuhan hidupnya. Antropologi yang mengungkapkan bagaimana kemampuan manusia
menciptakan hasil-hasil kebudayaan dengan perkembangannya dari keadaan yang
sederhana kepada keadaan yang makin maju, merupakan sumber dan materi yang
harus dipelajari pada pengajar IPS.
Demikianlah
beberapa bidang keilmuan yang menjdi sumber bagi pengajaran IPS. Jika dibahas
lebih lanjut, masih ada bidang keilmuan yang lain yang juga menjadi sumber yang
berharga. Bidang keilmuan itu antara lain psikologi, ilmu hukum, ilmu
pendidikan, dan ekologi manusia. Untuk keperluan ini, guru IPS harus manaruh
minat yang besar untuk mempelajari dan mendalami tiap bidang keilmuan tadi. Dengan
melalui usaha ini, ia akan selalu mampu menyajikan materi pelajaran IPS yang
segar dan relevan dengan perkembangan dan pertumbuhan kehidupan masyarakat. Ia
tidak akan menjdi guru yang ketinggalan zaman.
2.
Masyarakat sebagai Sumber dan Materi IPS
Ilmu
pengetahuan sosial adalah bidang pengetahuan yang digali dari kehidupan praktis
sehari-hari di masyarakat. Oleh karena itu, pengajaran IPS yang merupakan
sebagai sumber dan objeknya, merupakan suatu bidang pengetahuan yang tidak
berpijak kepada kenyataan. IPS yang tidak bersumber kepada kenyataan tadi,
tidak mengkin akan mencapai sasaran dan tujuannya, tidak akan memenuhi tuntutan
kemasyarakatan.
Pengajaran
IPS bukan hanya sekeder menyajikan materi-materi yang akan memenuhi ingatan
para siswa, melainkan labih jauh, kebutuhannya sendiri dan sesuai dengan
kebutuhan dan tuntunan masyarakat oleh karena itu, pengajaran IPS harus pula
mampu menggali materi-materi yang bersumber kepada masayarakat. Selanjutnya,
masyarakat itu selain menjdi sumber dan materi IPS, juga menjdi
labolatoriumnya. Pengetahuan, konsep, dan teori-teori IPS yang telah diperoleh
murid-murid di dalam kelas, selain dapat dicocokan di masayrakat, dapat pula
diterapkannya. Masyarakat merupakan tempat yang nyata untuk mencobakan segala
pengetahuan IPS yang telaj dipelajarinya. Masyarakat menjadi laboratorium yang
nyata bagi pengajar IPS.
Secara
wajar, pada pelaksanaan IPS, kita harus menggunakan masyarakat sebagai
sumbernya, materinya, dan sebagai labolatoriumnya tempat mencocokan pengetahuan
teoritis dengan kenyataan praktisnya. Pada pengajaran IPS ini, guru harus
membawa anak-didik kepada kenyataan hidup yang sebenarnya, yang dapat dihayati
dapat membina kepekaan – sikap mental – keterampilan dalam menghadapi kehidupan
yang nyata tadi, itulah sasaran dan tujuan utama pengajaran IPS. Melalui
pengajaran IPS seperti yang digambarkan di atas, kita dapat mengharapkan
terbinanya warga negara yang akan datang yang peka terhadap masalah sosial yang
terjdi dimasyarakat
Pengertian Konsep dan
Konsep IPS
Konsep adalah suatu pengertian yang disimpulkan dari
sekumpulan data yang memiliki ciri-ciri yang sama. Schwab (1969: 12-14)
menyatakan bahwa konsep merupakan abstraksi, yaitu suatu konstruksi logis yang
terbentuk dari kesan, tanggapan, dan pengalaman-pengalaman kompleks. Hal
ini sejalan dengan pendapat Banks (1977:85) bahwa “a concept is an abstract
word or phrase that is useful for classifying or categorizing a group of
things, ideas, or events”, yang berarti bahwa konsep itu merupakan suatu
kata atau frase abstrak yang bermanfaat untuk mengklasifikasikan atau
menggolongkan sejumlah hal, gagasan, atau peristiwa. Dengan demikian,
pengertian konsep menunjuk pada suatu abstraksi, penggambaran dari sesuatu yang
konkret maupun abstrak (tampak maupun tidak tampak) dapat berbentuk pengertian
atau definisi ataupun gambaran mental, atribut esensial dari suatu kategori
yang memiliki ciri-ciri esensial relatif sama.
Bruner (1966) menyatakan setiap konsep memiliki tiga unsur
yaitu: (1) examples, (2) attributes dan (3) attributes value.
Adapun Joyce dan Weil (2000: 125) menyatakan bahwa setiap konsep memiliki 6
aspek, yang meliputi:
1. Nama
yaitu istilah atau etiket yang diberikan kepada satu kategori fakta yang
mempunyai ciri-ciri yang sama.
2. Essential
attributes atau criteria attributes, yaitu ciri-ciri
yang menempatkan contoh-contoh konsep yang berlainan dalam kategori yang sama.
3. Non
essential attributes, adalah ciri-ciri yang tidak ikut
menentukan apakah contoh termasuk ke dalam suatu kategori.
4. Positive
examples
5. Negative
attributes, ini tidak mewakili konsep
6. Rule,
adalah pernyataan yang mencakup semua criteria attributes.
Kesalahan konsep bisa terjadi manakala adanya penghilangan
atau penambahan dari hal-hal yang esensial, sehingga terjadi kekeliruan. Dengan
demikian dalam pembelajaran jenis konsep dikembangkan oleh pengetahuan yang
berhubungan dengan fakta mencakup semua data khususnya yang terdiri dari
kejadian, objek, orang atau gejala yang dapat dirasakan. Fakta adalah tingkat
yang paling rendah dari suatu abstraksi, suatu fakta merupakan keadaan
faktual dan dapat diterima sebagaimana adanya. Konsep merupakan suatu
pernyataan atau frase yang berguna dalam mengklasifikasikan fakta, kejadian,
atau ide berdasarkan karakteristik yang umum.
Dengan demikian, konsep adalah suatu pengertian yang
disimpulkan dari sekumpulan data yang memiliki ciri-ciri yang sama. Dapat
dikatakan konsep merupakan abstrak dari suatu kejadian atau hal-hal yang
memiliki ciri-ciri yang sama atau ide tentang sesuatu di dalam pikiran. Makin abstrak
suatu konsep, makin besar kemampuan mengumpulkan fakta yang lebih spesifik, dan
makin tidak abstrak yang berada di bawahnya. Bentuk geografi adalah
merupakan konsep, yang berada di bawahnya antara lain: sungai, danau,
pegunungan, tebing, lautan dan lain sebagainya. Ilmu Pengetahuan Sosial kaya
akan konsep-konsep IPS, dalam memahami konsep IPS tentu mengetahui terlebih
dahulu konsep IPS itu sendiri . Menurut Kamus Bahasa Indonesia kata “paham” mengandung
makna pengertian; pengetahuan banyak, sedangkan “pemahaman” adalah
proses, perbuatan, cara memahami atau memahamkan.
Fakta yang ada di dalam masyarakat dan lingkungannya.
Fakta-faktanya di lingkungan masyarakat, salah satu contohnya konsep ilmu-ilmu
sosial sebagai berikut: Ilmu Ekonomi; kelangkaan sumber-sumber kebutuhan hidup,
Politik; kekuasaan dan kekuatan, Ekologi; interaksi kehidupan dan lingkungan,
Sosiologi; masyarakat, Antropologi; kebudayaan, Psikologi; kejiwaan, Sejarah;
waktu dan Geografi; ruang. Setiap cabang ilmu sosial mengembangkan konsep
dasar serta generalisasi masing-masing yang sesuai. Mempelajari konsep
merupakan hal yang sangat penting, akan memudahkan memahami proses terjadinya,
karena diperoleh melalui pemahaman yaitu mengerti lebih banyak pengetahuan,
sehingga membuat suatu peristiwa menjadi lebih jelas kaitannya antara satu sama
lain.
Dari uraian di atas, proses pembentukan konsep dan
generalisasi berjalan secara induktif melalui penyajian fakta menjadi konsep
dan dari konsep menjadi generalisasi. Kegagalan dalam memahami konsep akan
mengakibatkan kesalahan dalam membentuk generalisasi (Alma dan Harlasgunawan,
2003:155). Dengan demikian dalam memilih konsep yang hendak diajarkan kepada
mahasiswa memperhatikan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: ketepatan,
kegunaan, kekayaan pengalamannya, kekayaan konsep yang telah dipahami,
lingkungan hidup peserta didik dan tingkat kematangan peserta didik. Pengertian
konsep di atas mengacu pada konsep struktur ilmu yang di dalamnya mencakup ilmu
sosiologi, antropologi, geografi, sejarah, ilmu ekonomi, dan ilmu politik.
Pentingnya Ilmu Pengetahuan Sosial
Ilmu
pengetahuan sosial
juga membahas hubungan antara manusia dengan lingkungannya. Lingkungan
masyarakat dimana anak didik tumbuh dan berkembang sebagai bagian dari
masyarakat, dihadapkan pada berbagai permasalahan yang ada dan terjadi di
lingkungan sekitarnya. Pendidikan IPS berusaha membantu peserta didik dalam
memecahkan permasalahan yang dihadapi sehingga akan menjadikannya semakin
mengerti dan memahami lingkungan sosial masyarakatnya (Kosasih, 1994).
Pada dasarnya tujuan dari pendidikan
IPS adalah untuk mendidik dan memberi bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk
mengembangkan diri sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, dan lingkungannya,
serta berbagai bekal siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih
tinggi. Berdasarkan pengertian dan tujuan dari pendidikan IPS, tampaknya
dibutuhkan suatu pola pembelajaran yang mampu menjembatani tercapainya tujuan
tersebut. Kemampuan dan keterampilan guru dalam memilih dan menggunakan berbagai
model, metode dan strategi pembelajaran senantiasa terus ditingkatkan (Kosasih,
1994), agar pembelajaran Pendidikan IPS benar-benar mampu mengondisikan upaya
pembekalan kemampuan dan keterampilan dasar bagi peserta didik untuk menjadi
manusia dan warga negara yang baik. Hal ini dikarenakan pengondisian iklim
belajar merupakan aspek penting bagi tercapainya tujuan pendidikan (Azis Wahab,
1986).
Pola pembelajaran pendidikan IPS
menekankan pada unsur pendidikan dan pembekalan pada peserta didik. Penekanan pembelajarannya
bukan sebatas pada upaya mencecoki atau menjejali peserta didik dengan sejumlah
konsep yang bersifat hafalan belaka, melainkan terletak pada upaya agar mereka
mampu menjadikan apa yang telah dipelajarinya sebagai bekal dalam memahami dan
ikut serta dalam melakoni kehidupan masyarakat lingkungannya, serta sebagai
bekal bagi dirinya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Di sinilah sebenarnya penekanan misi dari pendidikan IPS. Oleh karena itu,
rancangan pembelajaran guru hendaknya diarahkan dan difokuskan sesuai dengan
kondisi dan perkembangan potensi
siswa agar
pembelajaran yang dilakukan benar-benar berguna dan bermanfaat bagi siswa
(Kosasih, 1994; Hamid Hasan, 1996).
Karakteristik mata pembelajaran IPS berbeda dengan disiplin ilmu lain
yang bersifat monolitik. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan integrasi dari
berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial seperti: sosiologi, sejarah, geografi,
ekonomi, politik, hukum, dan budaya. Rumusan Ilmu Pengetahuan Sosial
berdasarkan realitas dan fenomena sosial melalui pendekatan interdisipliner.
Geografi, sejarah, dan antropologi merupakan disiplin ilmu
yang memiliki keterpaduan yang tinggi. Pembelajaran geografi memberikan
kebulatan wawasan yang berkenaan dengan wilayah-wilayah, sedangkan sejarah
memberikan wawasan berkenaan dengan peristiwa-peristiwa dari berbagai periode.
Antropologi meliputi studi-studi komparatif yang berkenaan dengan nilai-nilai,
kepercayaan, struktur sosial, aktivitas-aktivitas ekonomi, organisasi politik,
ekspresi-ekspresi dan spiritual, teknologi, dan benda-benda budaya dari
budaya-budaya terpilih. Ilmu politik dan ekonomi tergolong ke dalam ilmu-ilmu
tentang kebijakan pada aktivitas-aktivitas yang berkenaan dengan pembuatan
keputusan. Sosiologi dan psikologi sosial merupakan ilmu-ilmu tentang perilaku
seperti konsep peran, kelompok, institusi, proses interaksi dan kontrol sosial.
Secara intensif konsep-konsep seperti ini digunakan ilmu-ilmu sosial dan
studi-studi sosial.
Karateristik mata pelajaran IPS SMA antara lain sebagai berikut.
1.
Ilmu
Pengetahuan Sosial merupakan gabungan dari unsur-unsur geografi, sejarah,
ekonomi, hukum dan politik, kewarganegaraan, sosiologi, bahkan juga bidang
humaniora, pendidikan dan agama (Numan Soemantri, 2001).
2.
Standar
Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPS berasal dari struktur keilmuan geografi,
sejarah, ekonomi, dan sosiologi, yang dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi
pokok bahasan atau topik (tema) tertentu.
3.
Standar
Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPS juga menyangkut berbagai masalah sosial
yang dirumuskan dengan pendekatan interdisipliner dan multidisipliner.
4.
Standar
Kompetensi dan Kompetensi Dasar dapat menyangkut peristiwa dan perubahan
kehidupan masyarakat dengan prinsip sebab akibat, kewilayahan, adaptasi dan
pengelolaan lingkungan, struktur, proses dan masalah sosial serta upaya-upaya
perjuangan hidup agar survive seperti pemenuhan kebutuhan, kekuasaan,
keadilan dan jaminan keamanan (Daldjoeni, 1981).
5.
Standar
Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPS menggunakan tiga dimensi dalam mengkaji dan
memahami fenomena sosial serta kehidupan manusia secara keseluruhan. Ketiga
dimensi tersebut terlihat pada tabel berikut.
Tabel 1 Cakupan dalam Pembelajaran IPS(Sumber: Sardiman, 2004)
|
Cakupan |
Ruang |
Waktu |
Nilai/Norma |
|
Area dan
substansi pembelajaran |
Alam
sebagai tempat dan penyedia potensi sumber daya |
Alam dan
kehidupan yang selalu berproses, masa lalu, saat ini, dan yang akan dating |
Acuan
sikap dan perilaku manusia berpa kaidah atau aturan yang menjadi perekat dan
penjamin keharmonisan kehidupan manusia dan alam |
|
Contoh
Kompetensi Dasar yang dikembangkan |
Adaptasi
spasial dan eksploratif |
Berpikir
kronologis, prospektif, antisipatif |
Konsisten
dengan aturan yang disepakati dan kaidah alamiah masing-masing disiplin ilmu |
|
Alternatif
penyajian dalam mata pelajaran |
Geografi |
Sejarah |
Ekonomi,
Sosiologi/ Antropologi |
Tujuan utama Ilmu Pengetahuan Sosial
ialah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah
sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap
perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap
masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang
menimpa masyarakat.
Tujuan tersebut dapat dicapai
manakala program-program pembelajaran IPS di sekolah diorganisasikan secara
baik. Dari rumusan tujuan tersebut dapat dirinci sebagai berikut (Awan Mutakin,
1998).
1.
Memiliki
kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat atau lingkungannya, melalui
pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah dan kebudayaan masyarakat.
2.
Mengetahui
dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan metode yang diadaptasi dari ilmu-ilmu
sosial yang kemudian dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial.
3.
Mampu
menggunakan model-model dan proses berpikir serta membuat keputusan untuk
menyelesaikan isu dan masalah yang berkembang di masyarakat.
4.
Menaruh
perhatian terhadap isu-isu dan masalah-masalah sosial, serta mampu membuat
analisis yang kritis, selanjutnya mampu mengambil tindakan yang tepat.
5.
Mampu
mengembangkan berbagai potensi sehingga mampu membangun diri sendiri agar survive
yang kemudian bertanggung jawab membangun masyarakat. pengembangan keterampilan
pembuatan keputusan.
6.
Memotivasi
seseorang untuk bertindak berdasarkan moral.
7.
Fasilitator
di dalam suatu lingkungan yang terbuka dan tidak bersifat menghakimi.
8.
Mempersiapkan
siswa menjadi warga negara yang baik dalam kehidupannya “to prepare students
to be well-functioning citizens in a democratic society’ dan mengembangkan
kemampuan siswa mengunakan penalaran dalam mengambil keputusan pada setiap
persoalan yang dihadapinya.
9.
Menekankan
perasaan, emosi, dan derajat penerimaan atau penolakan siswa terhadap materi
Pembelajaran IPS yang diberikan.
Komentar
Posting Komentar