FILSAFAT PENDIDIKAN IPS

 

FILSAFAT PENDIDIKAN IPS

Filsafat berasala dari kata philo, dan shopia, philos artinya berpikir dan shopia artinya kebijaksanaan. Jadi, Filsafat ialah cinta kepada kebijaksanaan. Berpikir artinya mengolah data inderawi menjadi pengertian, atau proses mencari makna, dan kebijaksanaan artinya pengambilan keputusan yang memihak pihak yang lemah. Dengan demikian filsafat dapat diartikan berpikir mendalam tentang data inderawi dan pengambilan keputusan yang memihak kepada pihak yang lemah.

Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan yang dibatasi pengalaman, tetapi masalah-masalah yang lebih luas, dan lebih kompleks. Seorang guru, baik sebagian pribadi maupun sebagian pelaksanaan  pendidikan, perlu mengetahui filsafat pendidikan. Tujuan pendidikan perlu dipahami hubungannya dengan tujuan hidup. Filsafat pendidikan harus mampu memberikan pedoman kepada para pendidik (guru).

Filsafat disebut juga ilmu pengetahuan yang mencari hakekat dari berbagai fenomena kehidupan manusia. Filsafat pendidikan adalah ilmu yang menyelidiki hakekat pelaksanaan pendidikn yang bersangkut paut dengan tujuan, latar belakang, cara dan hasilnya, serta hakekat ilmu pendidikan, yang berhubungan dengan analisis kritis terhadap struktur dan kegunaan pendidikan.

Sejarah filsafat yunani mencatat, bahwa filsafat mencakup seluruh bidang ilmu pengetahuan. Lambat laun banyak ilmu-ilmu khusus yang berkembang dan melepaskan diri dari filsafat. Meskipun demikian, filsafatdan ilmu pengetahuan masih memiliki hubungan dekat. Sebab baik filsafat maupun ilmu pengetahuan sama-sama pengetahuan yang metodis, sistematis, koheren dan mempunyai obyek material dan formal. Namun yang membedakan di antar keduanya adalah:  filsafat mempelajari seluruh realitas, sedangkan ilmu pngetahuan hanya mempelajari satu realitas atau bidang tertentu. Semua pengetahuan pada mulanya merupakan satu kesatuan dan belum terbagi-bagi atau terspesialisasi seperti sekarang. Yang dikenal pada masa itu hanyalah filsafat, yaitu filsafat alam dan filsafat sosial.

Filsafat pendidikan adalah ilmu yang menyelidiki hakekat pelaksanaan pendidikan yang bersangkut paut dengan tujuan, latar belakang, cara dan hasilnya, serta hakekat ilmu pendidikan, yang berhubungan dengan analisis kritis terhadap struktur dan kegunaan pendidikan itu sendiri.

 

 

Filsafat ilmu pendidikan dibedakan dalam 4 macam, yaitu:

1.      Ontologi yaitu ilmu pendidika yang membahas tentang hakekat substansi dan pola organisasi ilmu pendidikan.

2.      Epistemologi yaitu ilmupendidikan yang membahas tentang hakekat objek formal dan material ilmu pendidikan.

3.      Metodologi yaitu ilmu pendidikan yang membahas tentang hakekat cara-cara kerja dalam menyusun ilmu pendidikan.

4.      Aksipologi yaitu ilmu pendidikan yang membahas tentang hakekat nilai kegunaan teoritis dan praktis ilmu pendidikan.

Filsafat pendidikan ilmu pengetahuan sosial (IPS) pada dasarnya tidak berbeda dengan filsafat-filsafat ilmu pendidikan lainnya, karena filsafat pendidikan IPS juga merupakan filsafat praktik pendidikan, yaitu praktik tentang pendidikan ilmu-ilmu sosial agar para peserta didik mampu memahami masalah-masalah sosial dan dapat mengatasinya serta mengambil keputusan yang tepat terhadap masalah yang dihadapi dalam kehidupannya. Suatu ilmu pengetahuan dapat disertakan sebagai ilmu jika memenuhi cara-cara sebagai ilmu atau pengetahuan.

 

Pengertian PIPS

Istilah Pendidikan IPS atau PIPS merupakan istilah yang sejajar dengan istilah Pendidikan IPA. Menurut Prof. Nu’man Somantri, istilah ini adalah penegasan dan akibat dari istlah IPS-IPA saja agar bisa dibedakan dengan pendidikan pada tingkat universitas. Dalam lingkup filsafat ilmu, disiplin ilmu-ilmu sosial, dan ilmu pendidikan, istilah Pendidikan IPS belum dikenal baik sebagai sub disiplin ilmu atau cabang dari disiplin ilmu. Dalam kepustakaan asing, istilah yang lazin digunakan antara lain social studies, social education, social studies education, social science education, Citizenship Education, Studies of society and environment.perbedaan istilah ini bukan hanya digunakan berbeda antar negara melainkan terjadi perbedaan antar negara bagian dalam satu negara.

Tujuan dari PIPS adalah mendidik siswa sebagai warga negara yang baik (good citizhenship), warga masyarakat yang kontruktif dan produktif, yaitu warga negara yang memahami dirinya sendiri dan masyarakatnya, mampu merasa sebagai warganegara, berpikir sebagai warga negara, bertindak sebagai warga negara, dan jika mungkin juga mampu hidup sebagaimana layaknya warga negara (saxe, 1991:182, appendix).

 

 

NCSS menjelaskan istilah social studies (Pendidikan IPS) sebagai berikut.

The term social studies is used to include history, economics, antropology, sociology, civics, geography and all modifications of subjects whose content as well as aim is social. In all content deinitions, the social studies is conceived as the subject matter of the academic disciplines somehow simplifiied, adapted, modified, or selected for school instruction.

 

Muhammad Numan Somantri (1988:8) mengemukakan:

Pendidikan IPS adalah suatu penyederhanaan disiplin ilmu-ilmu sosial, ideologi negara dan disiplin ilmu lainnya serta masalah-masalah sosial yang terkait, yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan pada tingkat pendidikan dasar dan menengah.

Perbandingan Pendidikan IPS untuk Tingkat Pendidikan Dasar dan Menengah dengan Pendidikan Tinggi (FPIPS)

Pendidikan IPS untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah

Pendidikan IPS untuk FPIPS dan jurusan IPS-FKIP

Pendidikan IPS merupakan penyederhanaan adaptasi, seleksi dan modifikasi dari disiplin akdemis ilmu-ilmu sosial yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan pedagogis-psikologis untuk tujuan institusional pendidikan dasar dan menengah dalam kerangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang berdasarkan pancasila.

Pendidikan IPS adalah seleksi dari struktur disiplin akademik ilmu-ilmu sosial yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah (dan psikologis) untuk mewujudkan tujuan pendidikan FPIPS dalam kerangka pencapaian tujuan pendidikan nasional yang berdasarkan pancasila.

 

HAKIKAT PEMBELAJARAN IPS

 

IPS merupakan suatu program pendidikan dan bukan sub-disiplin ilmu tersendiri, sehingga tidak akan ditemukan baik dalam nomenklatur filsafat ilmu, disiplin ilmu-ilmu sosial (social science), maupun ilmu pendidikan (Sumantri. 2001:89). Social Scence Education Council (SSEC) dan National Council for Social Studies (NCSS), menyebut IPS sebagai “Social Science Education” dan “Social Studies”. Dengan kata lain, IPS mengikuti cara pandang yang bersifat terpadu dari sejumlah mata pelajaran seperti: geografi, ekonomi, ilmu politik, ilmu hukum, sejarah, antropologi, psikologi, sosiologi, dan sebagainya

Dalam bidang pengetahuan sosial, ada banyak istilah. Istilah tersebut meliputi : Ilmu Sosial (Social Sciences), Studi Sosial (Social Studies) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

1.        Ilmu Sosial (Sicial Science)

Achmad Sanusi memberikan batasan tentang Ilmu Sosial (Saidihardjo,1996.h.2) adalah sebagai berikut: “Ilmu Sosial terdiri disiplin-disiplin ilmu pengetahuan sosial yang bertarap akademis dan biasanya dipelajari pada tingkat perguruan tinggi, makin lanjut makin ilmiah”.

Menurut Gross (Kosasih Djahiri,1981.h.1), Ilmu Sosial merupakan disiplin intelektual yang mempelajari manusia sebagai makluk sosial secara ilmiah, memusatkan pada manusia sebagai anggota masyarakat dan pada kelompok atau masyarakat yang ia bentuk.

Nursid Sumaatmadja, menyatakan bahwa Ilmu Sosial adalah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia baik secara perorangan maupun tingkah laku kelompok. Oleh karena itu Ilmu Sosial adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan mempelajari manusia sebagai anggota masyarakat.

2.        Studi Sosial (Social Studies).

Perbeda dengan Ilmu Sosial, Studi Sosial bukan merupakan suatu bidang keilmuan atau disiplin akademis, melainkan lebih merupakan suatu bidang pengkajian tentang gejala dan masalah social. Tentang Studi Sosial ini, Achmad Sanusi (1971:18) memberi penjelasan sebagai berikut : Sudi Sosial tidak selalu bertaraf akademis-universitas, bahkan merupakan bahan-bahan pelajaran bagi siswa sejak pendidikan dasar.

3.        Pengetahuan Sosial (IPS)

Harus diakui bahwa ide IPS berasal dari literatur pendidikan Amerika Serikat. Nama asli IPS di Amerika Serikat adalah “Social Studies”. Istilah tersebut pertama kali dipergunakan sebagai nama sebuah komite yaitu “Committee of Social Studies” yang didirikan pada tahun 1913. Tujuan dari pendirian lembaga itu adalah sebagai wadah himpunan tenaga ahli yang berminat pada kurikulum Ilmu-ilmu Sosial di tingkat sekolah dan ahli-ahli Ilmu-ilmu Sosial yang mempunyai minat sama. Hakikat IPS, adalah telaah tentang manusia dan dunianya. Manusia sebagai makhluk sosial selalu hidup bersama dengan sesamanya. Dengan kemajuan teknologi pula sekarang ini orang dapat berkomunikasi dengan cepat di manapun mereka berada melalui handphone dan internet. Kemajuan Iptek menyebabkan cepatnya komunikasi antara orang yang satu dengan lainnya, antara negara satu dengan negara lainnya. Dengan demikian maka arus informasi akan semakin cepat pula mengalirnya. Oleh karena itu diyakini bahwa “orang yang menguasai informasi itulah yang akan menguasai dunia”.

Suatu tempat atau ruang dipermukaan bumi, secara alamiah dicirikan oleh kondisi alamnya yang meliputi iklim dan cuaca, sumber daya air, ketinggian dari permukaan laut, dan sifat-sifat alamiah lainnya. Jadi bentuk muka bumi seperti daerah pantai, dataran rendah, dataran tinggi, dan daerah pegunungan akan mempengaruhi terhadap pola kehidupan penduduk yang menempatinya. Lebih jelasnya Anda dapat mencermati contoh berikut ini.

1.        Corak kehidupan masyarakat di tepi pantai utara Jawa yang bentuknya landai dengan laut yang tenang dan tidak begitu tinggi serta arus angin yang tidak begitu kencang, sangat menguntungkan bagi masyarakat untuk mencari ikan. Hal ini disebabkan ikan banyak berkumpul di kawasan laut yang dangkal yang masih tertembus sinar matahari. Oleh karena itu mayoritas masyarakatnya bermata pencaharian sebagai nelayan. Hampir semua pelabuhan-pelabuhan besar di pulau Jawa sebagian besar terletak di pantai utara Jawa.

2.        Dataran rendah yang meliputi daerah pantai sampai ketinggian 700 meter di atas permukaan laut merupakan kawasan yang cadangan airnya cukup, didukung oleh iklimnya yang cocok, merupakan potensi alam yang cocokuntuk dikembangkan sebagai areal pertanian, misalnya Karawang, Bekasi, Indramayu, Subang dan sebagainya. Dataran tinggi yang beriklim sejuk, dengan cadangan air yang sudah semakin berkurang maka sistem pertanian yang dikembangkan adalah pertanian lahan kering dan holtikultura seperti sayuran, buah-buahan, da tanaman hias.

3.        Lain dengan daerah pegunungan yang memiliki corak tersendiri. Karena sedikitnya persediaan air tanah, mengakibatkan pemukiman penduduk terpusat di lembah-lembah atau mendekati alur sungai. Hal ini dikarenakan mereka berusaha untuk mendapatkan sumber air yang relatif mudah. Ladang yang mereka usahakan biasanya terletak di lembah pegunungan.

Aspek pengaturan dan kebijakan ini termasuk aspek politik

 

 

 

Marilah kita cermati kembali apa yang sudah kita pelajari di atas. Setelah kita pelajari ternyata kehidupan itu banyak aspeknya, meliputi aspek-aspek:

1.        hubungan sosial: semua hal yang berhubungan dengan interaksi manusia tentang proses, faktor-faktor, perkembangan, dan permasalahannya dipelajari dalam ilmu sosiologi

2.        ekonomi: berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan manusia, perkembangan, dan permasalahannya dipelajari dalam ilmu ekonomi

3.        psikologi: dibahas dalam ilmu psikologi

4.        budaya: dipelajari dalam ilmu antropologi

5.        sejarah: berhubungan dengan waktu dan perkembangan kehidupan manusia dipelajari dalam ilmu sejarah

6.        geografi: hubungan ruang dan tempat yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia dipelajari dalam ilmu geografi

7.        politik: berhubungan dengan norma, nilai, dan kepemimpinan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat dipelajari dalam ilmu politik.

IPS (Ilmu Pengetauan Sosial) bukan merupakan suatu bidang keilmuan atau disiplin bidang akademik, melainkan lebih merupakan suatu bidang pengkajian tentang gejala dan masalah social. Dalam kerangka kerja pengkajiannya IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) menggunakan bidang-bidang keilmuan yang termasuk bidang ilmu social.

IPS (Ilmu Pengetauan Sosial) segai satu program pendidikan tidak hanya menyajikan tentang konsep-konsep pengetahuan semata, namun harus pula mampu membina peserta didik menjadi warga masyarakat yang tahu akan hak dan kewajiban, yang juga memiliki tanggung jawab atas kesejahteraan bersama yang seluas-luasnya. Oleh karena peserta didik yang dibina melalui IPS tidak hanya memiliki pengetahuan dan kemampuan berpikir tinggi,namun peserta didik diharapkan pula memiliki kesabaran dan tanggung jawab yang tinggi terhadap diri dan lingkungannya.

 

TUJUAN PEMBELAJARAN IPS

Sebagai bidang pengetahuan dan sejarah IPS yang memiliki delapan  tujuan sebagai berikut:

1.        IPS mempersiapkan siswa untuk studi lanjut dibidang sosial science, mata pelajaran seperti sejarah, geografi, ekonomi, dan antropologi budaya haruslah diberikan lepas-lepas sebagai vak tersendiri. Mata pelajaran IPS yang terpecah-pecah tadi tak memerlukan usaha peramuan bagian-bagian dari mata pelajaran lain

2.        IPS hakikatnya merupakan suatu kompromi antara 1 dan 2 tersebut di atas.Sebagai suatu penyederhanaan dan penyaringan terhadap ilmu-ilmu sosial, dengan kemampuan dan daya tangkap.

3.        IPS yang mempelajari closed areas atau masalah-masalah sosial yamg pantas untuk dibicarakan dimuka umum. Bahannya menyangkut macam-macam misalnya ekonomi, pengetahuan sampai politik dadi sosial sampai kultural. Biar berlatih berpikir demokrat.

4.        IPS yang bertujuan mendidik kewarganegaraan yang baik. Dalam konteks budaya melalui pengolahan secara ilmiah dan psikologis yang tepat.

5.        Menurut pedoman khusus Bidang Studi IPS, tujuan bidang studi tersebut, yaitu dengan materi dipilih. Kegiatan belajar dan pembelajaran IPS mengarah kepada 2 hal.

a.         Nilai-nilai dan sikap hidup yang dikandung oleh pancasila atau UUD 1945 secara dasar dan intersif ditanamkan kepada siswa sehingga terpupuk kemauan dan tekad untuk hidup bertanggung jawab demi keselamatan diri, bangsa, negara, dan tanah air.

b.         Mengajarkan konsep-konsep dasar sosiologi, geografi, ekonomi, sejarah, dan kewarganegaraan, pedagogis, dan psikologis.

6.        Mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan sosial membangun komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan

7.        Meningkatkan kemampuan bekerja sama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, baik secara nasional maupun global.

        Sejalan dengan tujuan tersebut tujuan pendidikan IPS menurut (Nursid Sumaatmadja. 2006) adalah “membina anak didik menjadi warga negara yang baik, yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepedulian social yang berguna bagi dirinya serta bagi masyarakat dan negara” Sedangkan secara rinci Oemar Hamalik merumuskan tujuan pendidikan IPS berorientasi pada tingkah laku para siswa, yaitu : (1) pengetahuan dan pemahaman, (2) sikap hidup belajar, (3) nilai-nilai sosial dan sikap, (4) keterampilan (Oemar hamalik. 1992 : 40-41).

 

 

 

 

Sumber dan Materi Ilmu Pengetahuan Sosial

Telah dikatakan di atas bahwa ruang lingkup yang dipelajari IPS adalah manusia sebagai anggota masyarakat. Oleh karena itu, segala gejala, masalah, dan perstiwa tentang kehidupan manusia di masyarakat, dapat dijadikan sumber dan materi IPS, kejadian – kejadian tadi baik yang langsung kita jumpai di masyarakat maupun yang diberitakan di radio, suarat kabar, TV, dan yang ditulis pada buku-buku pelajaran, dapat dijadikan bahan untuk dipelajari pada IPS. Dengan demikian, sumber dan materi IPS ini dapat dikatakan tidak terbatas.

1.        Ilmu Sosial sebagai Sumber IPS 

Seperti pernah dikemukakan terdahulu, bahwa mata pelajaran atau bidang keilmuan yang dapat dilibatkan ke dalam pengajaran IPS berbeda antara yang dilaksanakan di tingkat sekolah dasar dengan yang dilaksanakan disekolah lanjutan, dan dengan apa yang dilaksanakan diperguruan tinggi.

Mata pelajaran yang dapat dijadikan sumber pada pengajaran IPS yaitu geografi, sejarah, ekonomi, antropologi, politik, dan sosial. Guru pengajar IPS harus dapat memanfaatkan materi-materi pada mata pelajaran tadi. Guru harus menaruh perhatian yang penuh kepada apa yang diuraikan dan yang disajikan pada mata pelajaran yang termasuk ilmu sosial, jika guru telah menaruh minat yang besar terhadap materi yang diajarkan, maka anak-didik asuhannya pun akan menruh minat yang besar. Oleh karena itu, buku-buku ilmu sosial harus diminati dan disajikan sumber pada pengajaran IPS oleh guru dan murid.

Metode dan pendekatan geografi sangat membantu untuk lebih mengerti gejala dan masalah yang sedang dipelajari. Sejarah dengan proses sejarah yang mengungkapkan peristiwa-peristiwa kehidupan berdasarkan kurun waktunya, merupakan sumber dan materi IPS yang sangat berharga. Melalui materi sejarah, anak-didik akan dapat menghargai jasa tokoh-tokoh yang telah berjuang untuk membela kebenaran dan hak azasi manusia. Ilmu ekonomi dan mata pelajaran ekonomi, mendidik para siswa dapat memanfaatkan sumber daya dan tenaga yang terbatas, untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Antropologi yang mengungkapkan bagaimana kemampuan manusia menciptakan hasil-hasil kebudayaan dengan perkembangannya dari keadaan yang sederhana kepada keadaan yang makin maju, merupakan sumber dan materi yang harus dipelajari pada pengajar IPS.

Demikianlah beberapa bidang keilmuan yang menjdi sumber bagi pengajaran IPS. Jika dibahas lebih lanjut, masih ada bidang keilmuan yang lain yang juga menjadi sumber yang berharga. Bidang keilmuan itu antara lain psikologi, ilmu hukum, ilmu pendidikan, dan ekologi manusia. Untuk keperluan ini, guru IPS harus manaruh minat yang besar untuk mempelajari dan mendalami tiap bidang keilmuan tadi. Dengan melalui usaha ini, ia akan selalu mampu menyajikan materi pelajaran IPS yang segar dan relevan dengan perkembangan dan pertumbuhan kehidupan masyarakat. Ia tidak akan menjdi guru yang ketinggalan zaman.

2.        Masyarakat sebagai Sumber dan Materi IPS

Ilmu pengetahuan sosial adalah bidang pengetahuan yang digali dari kehidupan praktis sehari-hari di masyarakat. Oleh karena itu, pengajaran IPS yang merupakan sebagai sumber dan objeknya, merupakan suatu bidang pengetahuan yang tidak berpijak kepada kenyataan. IPS yang tidak bersumber kepada kenyataan tadi, tidak mengkin akan mencapai sasaran dan tujuannya, tidak akan memenuhi tuntutan kemasyarakatan.

Pengajaran IPS bukan hanya sekeder menyajikan materi-materi yang akan memenuhi ingatan para siswa, melainkan labih jauh, kebutuhannya sendiri dan sesuai dengan kebutuhan dan tuntunan masyarakat oleh karena itu, pengajaran IPS harus pula mampu menggali materi-materi yang bersumber kepada masayarakat. Selanjutnya, masyarakat itu selain menjdi sumber dan materi IPS, juga menjdi labolatoriumnya. Pengetahuan, konsep, dan teori-teori IPS yang telah diperoleh murid-murid di dalam kelas, selain dapat dicocokan di masayrakat, dapat pula diterapkannya. Masyarakat merupakan tempat yang nyata untuk mencobakan segala pengetahuan IPS yang telaj dipelajarinya. Masyarakat menjadi laboratorium yang nyata bagi pengajar IPS.

Secara wajar, pada pelaksanaan IPS, kita harus menggunakan masyarakat sebagai sumbernya, materinya, dan sebagai labolatoriumnya tempat mencocokan pengetahuan teoritis dengan kenyataan praktisnya. Pada pengajaran IPS ini, guru harus membawa anak-didik kepada kenyataan hidup yang sebenarnya, yang dapat dihayati dapat membina kepekaan – sikap mental – keterampilan dalam menghadapi kehidupan yang nyata tadi, itulah sasaran dan tujuan utama pengajaran IPS. Melalui pengajaran IPS seperti yang digambarkan di atas, kita dapat mengharapkan terbinanya warga negara yang akan datang yang peka terhadap masalah sosial yang terjdi dimasyarakat

 

Pengertian Konsep dan Konsep IPS

Konsep adalah suatu pengertian yang disimpulkan dari sekumpulan data yang memiliki ciri-ciri yang sama.  Schwab (1969: 12-14) menyatakan bahwa konsep merupakan abstraksi, yaitu suatu konstruksi logis yang terbentuk dari kesan, tanggapan, dan pengalaman-pengalaman kompleks.  Hal ini sejalan dengan pendapat Banks (1977:85) bahwa “a concept is an abstract word or phrase that is useful for classifying or categorizing a group of things, ideas, or events”, yang berarti bahwa konsep itu merupakan suatu kata atau frase abstrak yang bermanfaat untuk mengklasifikasikan atau menggolongkan sejumlah hal, gagasan, atau peristiwa.  Dengan demikian, pengertian konsep menunjuk pada suatu abstraksi, penggambaran dari sesuatu yang konkret maupun abstrak (tampak maupun tidak tampak) dapat berbentuk pengertian atau definisi ataupun gambaran mental, atribut esensial dari suatu kategori yang memiliki ciri-ciri esensial relatif sama.

Bruner (1966) menyatakan setiap konsep memiliki tiga unsur yaitu: (1) examples, (2) attributes dan (3) attributes value.  Adapun Joyce dan Weil (2000: 125) menyatakan bahwa setiap konsep memiliki 6 aspek, yang meliputi:

1.      Nama yaitu istilah atau etiket yang diberikan kepada satu kategori fakta yang mempunyai ciri-ciri yang sama.

2.      Essential attributes atau criteria attributes, yaitu ciri-ciri yang menempatkan contoh-contoh konsep yang berlainan dalam kategori yang sama.

3.      Non essential attributes, adalah ciri-ciri yang tidak ikut menentukan apakah contoh termasuk ke dalam suatu kategori.

4.      Positive examples

5.      Negative attributes, ini tidak mewakili konsep

6.      Rule, adalah pernyataan yang mencakup semua criteria attributes.

Kesalahan konsep bisa terjadi manakala adanya penghilangan atau penambahan dari hal-hal yang esensial, sehingga terjadi kekeliruan. Dengan demikian dalam pembelajaran jenis konsep dikembangkan oleh pengetahuan yang berhubungan dengan fakta mencakup semua data khususnya yang terdiri dari kejadian, objek, orang atau gejala yang dapat dirasakan. Fakta adalah tingkat yang paling rendah dari suatu  abstraksi, suatu fakta merupakan keadaan faktual dan dapat diterima sebagaimana adanya. Konsep merupakan suatu pernyataan atau frase yang berguna dalam mengklasifikasikan fakta, kejadian, atau ide berdasarkan karakteristik yang umum.

Dengan demikian, konsep adalah suatu pengertian yang disimpulkan dari sekumpulan data yang memiliki ciri-ciri yang sama. Dapat dikatakan konsep merupakan abstrak dari suatu kejadian atau hal-hal yang memiliki ciri-ciri yang sama atau ide tentang sesuatu di dalam pikiran. Makin abstrak suatu konsep, makin besar kemampuan mengumpulkan fakta yang lebih spesifik, dan makin  tidak abstrak yang berada di bawahnya. Bentuk geografi adalah merupakan konsep, yang berada di bawahnya antara lain: sungai, danau, pegunungan, tebing, lautan dan lain sebagainya. Ilmu Pengetahuan Sosial kaya akan konsep-konsep IPS, dalam memahami konsep IPS tentu mengetahui terlebih dahulu konsep IPS itu sendiri . Menurut Kamus Bahasa Indonesia kata “pahammengandung makna pengertian; pengetahuan banyak, sedangkan “pemahamanadalah proses, perbuatan, cara memahami atau memahamkan.

Fakta yang ada di dalam masyarakat dan lingkungannya. Fakta-faktanya di lingkungan masyarakat, salah satu contohnya konsep ilmu-ilmu sosial sebagai berikut: Ilmu Ekonomi; kelangkaan sumber-sumber kebutuhan hidup, Politik; kekuasaan dan kekuatan, Ekologi; interaksi kehidupan dan lingkungan, Sosiologi; masyarakat, Antropologi; kebudayaan, Psikologi; kejiwaan, Sejarah; waktu dan Geografi; ruang.  Setiap cabang ilmu sosial mengembangkan konsep dasar serta generalisasi masing-masing yang sesuai. Mempelajari konsep merupakan hal yang sangat penting, akan memudahkan memahami proses terjadinya, karena diperoleh melalui pemahaman yaitu mengerti lebih banyak pengetahuan, sehingga membuat suatu peristiwa menjadi lebih jelas kaitannya antara satu sama lain.

Dari uraian di atas, proses pembentukan konsep dan generalisasi berjalan secara induktif melalui penyajian fakta menjadi konsep dan dari konsep menjadi generalisasi. Kegagalan dalam memahami konsep akan mengakibatkan kesalahan dalam membentuk generalisasi (Alma dan Harlasgunawan, 2003:155). Dengan demikian dalam memilih konsep yang hendak diajarkan kepada mahasiswa memperhatikan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: ketepatan, kegunaan, kekayaan pengalamannya, kekayaan konsep yang telah dipahami, lingkungan hidup peserta didik dan tingkat kematangan peserta didik. Pengertian konsep di atas mengacu pada konsep struktur ilmu yang di dalamnya mencakup ilmu sosiologi, antropologi, geografi, sejarah, ilmu ekonomi, dan ilmu politik.

 

Pentingnya Ilmu Pengetahuan Sosial

Ilmu pengetahuan sosial juga membahas hubungan antara manusia dengan lingkungannya. Lingkungan masyarakat dimana anak didik tumbuh dan berkembang sebagai bagian dari masyarakat, dihadapkan pada berbagai permasalahan yang ada dan terjadi di lingkungan sekitarnya. Pendidikan IPS berusaha membantu peserta didik dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi sehingga akan menjadikannya semakin mengerti dan memahami lingkungan sosial masyarakatnya (Kosasih, 1994).

Pada dasarnya tujuan dari pendidikan IPS adalah untuk mendidik dan memberi bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkan diri sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, dan lingkungannya, serta berbagai bekal siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Berdasarkan pengertian dan tujuan dari pendidikan IPS, tampaknya dibutuhkan suatu pola pembelajaran yang mampu menjembatani tercapainya tujuan tersebut. Kemampuan dan keterampilan guru dalam memilih dan menggunakan berbagai model, metode dan strategi pembelajaran senantiasa terus ditingkatkan (Kosasih, 1994), agar pembelajaran Pendidikan IPS benar-benar mampu mengondisikan upaya pembekalan kemampuan dan keterampilan dasar bagi peserta didik untuk menjadi manusia dan warga negara yang baik. Hal ini dikarenakan pengondisian iklim belajar merupakan aspek penting bagi tercapainya tujuan pendidikan (Azis Wahab, 1986).

Pola pembelajaran pendidikan IPS menekankan pada unsur pendidikan dan pembekalan pada peserta didik. Penekanan pembelajarannya bukan sebatas pada upaya mencecoki atau menjejali peserta didik dengan sejumlah konsep yang bersifat hafalan belaka, melainkan terletak pada upaya agar mereka mampu menjadikan apa yang telah dipelajarinya sebagai bekal dalam memahami dan ikut serta dalam melakoni kehidupan masyarakat lingkungannya, serta sebagai bekal bagi dirinya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Di sinilah sebenarnya penekanan misi dari pendidikan IPS. Oleh karena itu, rancangan pembelajaran guru hendaknya diarahkan dan difokuskan sesuai dengan kondisi dan perkembangan potensi siswa agar pembelajaran yang dilakukan benar-benar berguna dan bermanfaat bagi siswa (Kosasih, 1994; Hamid Hasan, 1996).

Karakteristik mata pembelajaran IPS berbeda dengan disiplin ilmu lain yang bersifat monolitik. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan integrasi dari berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial seperti: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya. Rumusan Ilmu Pengetahuan Sosial berdasarkan realitas dan fenomena sosial melalui pendekatan interdisipliner.

Geografi, sejarah, dan antropologi merupakan disiplin ilmu yang memiliki keterpaduan yang tinggi. Pembelajaran geografi memberikan kebulatan wawasan yang berkenaan dengan wilayah-wilayah, sedangkan sejarah memberikan wawasan berkenaan dengan peristiwa-peristiwa dari berbagai periode. Antropologi meliputi studi-studi komparatif yang berkenaan dengan nilai-nilai, kepercayaan, struktur sosial, aktivitas-aktivitas ekonomi, organisasi politik, ekspresi-ekspresi dan spiritual, teknologi, dan benda-benda budaya dari budaya-budaya terpilih. Ilmu politik dan ekonomi tergolong ke dalam ilmu-ilmu tentang kebijakan pada aktivitas-aktivitas yang berkenaan dengan pembuatan keputusan. Sosiologi dan psikologi sosial merupakan ilmu-ilmu tentang perilaku seperti konsep peran, kelompok, institusi, proses interaksi dan kontrol sosial. Secara intensif konsep-konsep seperti ini digunakan ilmu-ilmu sosial dan studi-studi sosial.

Karateristik mata pelajaran IPS SMA antara lain sebagai berikut.

1.        Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan gabungan dari unsur-unsur geografi, sejarah, ekonomi, hukum dan politik, kewarganegaraan, sosiologi, bahkan juga bidang humaniora, pendidikan dan agama (Numan Soemantri, 2001).

2.        Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPS berasal dari struktur keilmuan geografi, sejarah, ekonomi, dan sosiologi, yang dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi pokok bahasan atau topik (tema) tertentu.

3.        Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPS juga menyangkut berbagai masalah sosial yang dirumuskan dengan pendekatan interdisipliner dan multidisipliner.

4.        Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar dapat menyangkut peristiwa dan perubahan kehidupan masyarakat dengan prinsip sebab akibat, kewilayahan, adaptasi dan pengelolaan lingkungan, struktur, proses dan masalah sosial serta upaya-upaya perjuangan hidup agar survive seperti pemenuhan kebutuhan, kekuasaan, keadilan dan jaminan keamanan (Daldjoeni, 1981).

5.        Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPS menggunakan tiga dimensi dalam mengkaji dan memahami fenomena sosial serta kehidupan manusia secara keseluruhan. Ketiga dimensi tersebut terlihat pada tabel berikut.

Tabel 1 Cakupan dalam Pembelajaran IPS(Sumber: Sardiman, 2004)

Cakupan

Ruang

Waktu

Nilai/Norma

Area dan substansi pembelajaran

Alam sebagai tempat dan penyedia potensi sumber daya

Alam dan kehidupan yang selalu berproses, masa lalu, saat ini, dan yang akan dating

Acuan sikap dan perilaku manusia berpa kaidah atau aturan yang menjadi perekat dan penjamin keharmonisan kehidupan manusia dan alam

Contoh Kompetensi Dasar yang dikembangkan

Adaptasi spasial dan eksploratif

Berpikir kronologis, prospektif, antisipatif

Konsisten dengan aturan yang disepakati dan kaidah alamiah masing-masing disiplin ilmu

Alternatif penyajian dalam mata pelajaran

Geografi

Sejarah

Ekonomi, Sosiologi/ Antropologi

Tujuan utama Ilmu Pengetahuan Sosial ialah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat.

Tujuan tersebut dapat dicapai manakala program-program pembelajaran IPS di sekolah diorganisasikan secara baik. Dari rumusan tujuan tersebut dapat dirinci sebagai berikut (Awan Mutakin, 1998).

1.        Memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat atau lingkungannya, melalui pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah dan kebudayaan masyarakat.

2.        Mengetahui dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan metode yang diadaptasi dari ilmu-ilmu sosial yang kemudian dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial.

3.        Mampu menggunakan model-model dan proses berpikir serta membuat keputusan untuk menyelesaikan isu dan masalah yang berkembang di masyarakat.

4.        Menaruh perhatian terhadap isu-isu dan masalah-masalah sosial, serta mampu membuat analisis yang kritis, selanjutnya mampu mengambil tindakan yang tepat.

5.        Mampu mengembangkan berbagai potensi sehingga mampu membangun diri sendiri agar survive yang kemudian bertanggung jawab membangun masyarakat. pengembangan keterampilan pembuatan keputusan.

6.        Memotivasi seseorang untuk bertindak berdasarkan moral.

7.        Fasilitator di dalam suatu lingkungan yang terbuka dan tidak bersifat menghakimi.

8.        Mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang baik dalam kehidupannya “to prepare students to be well-functioning citizens in a democratic society’ dan mengembangkan kemampuan siswa mengunakan penalaran dalam mengambil keputusan pada setiap persoalan yang dihadapinya.

9.        Menekankan perasaan, emosi, dan derajat penerimaan atau penolakan siswa terhadap materi Pembelajaran IPS yang diberikan.

 


Komentar